AKTUALITA.CO.ID – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mendominasi kehidupan modern, sebuah anomali sosial budaya yang unik justru terekam dalam masyarakat Muslim Indonesia. Di satu sisi masyarakat menikmati kepraktisan teknologi digital, namun di sisi lain, praktik tradisional seperti penggunaan jimat masih bertahan kuat.
Fenomena kontras ini dikupas tuntas dalam penelitian ilmiah terbaru berjudul “Belief or Disbelief? Unraveling the Meaning of the Use of Quranic Verses as Amulets in Indonesian Muslim Society”.
Riset yang diinisiasi sejak tahun 2024 oleh Izal Samsudin, seorang peneliti dan penulis asal Kota Ternate, resmi diterbitkan di Jurnal Studi Al-Qur’an (JSQ), sebuah jurnal ilmiah nasional bereputasi yang telah terakreditasi SINTA 3 dan terindeks global.
Mengurai Disonansi Kognitif di Era Digital
Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademis melihat masyarakat modern yang hidup di dua dunia yang bertolak belakang (disonansi kognitif).
Ketika AI membantu manusia menyelesaikan masalah kompleks secara logis dan instan, sebagian masyarakat rupanya masih menggantungkan perlindungan, keberuntungan, dan keselamatan fisik mereka pada benda-benda magis, salah satunya berupa potongan atau rajah ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan jimat.
Studi ini bertujuan untuk mengurai makna di balik pergeseran fungsi teks suci dari tuntunan hidup menjadi objek berkekuatan mistis, serta melihat implikasi sosiologis dan teologis yang ditimbulkannya di era modern.
Untuk mendapatkan data yang valid, Izal menggunakan metode kualitatif melalui tinjauan pustaka (literature review) teks klasik dan fatwa ulama, serta observasi lapangan untuk mengamati langsung bagaimana jimat ayat tersebut diproduksi, didistribusikan, dan diyakini oleh penggunanya sehari-hari.
Batas Tipis Antara Berkah dan Syirik
Data yang dikumpulkan kemudian dibedah secara kritis melalui kacamata teologi Islam, dengan fokus pada konsep monoteisme (Tauhid).
Hasil analisis riset menyoroti batas tipis antara ekspresi keimanan (tabarruk atau mengambil berkah dari Al-Qur’an) dan potensi ketergelinciran teologis (syirik), tergantung pada keyakinan batin sang pengguna.
Ulama sendiri terbelah menjadi dua pandangan: mereka yang melarang secara mutlak demi menjaga kemurnian tauhid, dan mereka yang memberikan kelonggaran dengan syarat ketat seperti keyakinan bahwa perlindungan hanya datang dari Allah, serta ayat tersebut harus dibaca, bukan sekadar disimpan di dompet atau saku.
Menanggapi hasil risetnya, Izal Samsudin menegaskan pentingnya perubahan pola pikir di kalangan generasi muda Muslim saat ini.
”Kita sebagai umat Islam harus lebih kritis dalam mengkaji Islam supaya tidak terikat dengan hal mistis,” ujar Izal Samsudin.
Menurutnya, di era di mana AI dan rasionalitas dijunjung tinggi, ketajaman berpikir kritis sangat krusial agar masyarakat tidak terjebak dalam mistisisme yang keliru.
Selain aktif menulis jurnal, pemuda asal Ternate yang juga penulis e-book populer “Pendidikan Rusak” di Google Books ini berharap karya ilmiahnya di JSQ mampu memicu diskusi yang lebih sehat, melek literasi, dan rasional di tengah masyarakat Indonesia.
(Red/T1)
AKTUALITA.CO.ID – Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta melalui Kelompok 18 melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahun Akademik 2025–2026 di Desa Nagrak, Kecamatan Gunung Putri,...
Read more









