AKTUALITA.CO.ID — Anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) H. Achmad Fathoni meninjau langsung progres pembangunan revitalisasi Jembatan WIKA yang berada di Jalan Raya Provinsi Jawa Barat, tepatnya di perbatasan Kecamatan Gunung Putri dan Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Senin (10/8/2026).
Achmad Fathoni menegaskan, kedatangannya bukan untuk melakukan pemeriksaan teknis terhadap pekerjaan konstruksi, melainkan memastikan sejumlah aspek nonteknis, terutama terkait jadwal penyelesaian proyek serta akses dan keselamatan masyarakat selama proses pembangunan berlangsung.
“Ini kan jembatan punya provinsi. Jadi saya memang bukan meninjau dari segi teknis pekerjaannya, tapi dari segi nonteknis, salah satunya kaitan dengan schedule pekerjaan,” ujar H. Achmad Fathoni kepqda Aktualita.co.id. Selasa (11/8/2026).
Ia menilai, keterlambatan meski hanya beberapa hari dapat menimbulkan konsekuensi besar apabila pekerjaan melewati batas tahun anggaran.
“Saya tidak mau sampai ada penundaan sehingga terjadi luncuran. Berdasarkan schedule tanggal 28 Desember. Kalau ada keterlambatan seminggu saja itu sudah luncuran, sudah lewat tahun,” katanya.
“Kalau lewat tahun, luncuran pasti ada konsekuensi terhadap banyak hal. Termasuk mungkin jembatannya akhirnya enggak bisa dipakai. Itu concern saya,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta kontraktor dan pihak terkait untuk segera mengantisipasi setiap potensi keterlambatan yang dapat menghambat penyelesaian proyek.
Selain jadwal pekerjaan, Achmad Fathoni juga menyoroti persoalan akses masyarakat selama proses revitalisasi berlangsung. Ia menyebut persoalan akses tersebut sebelumnya ramai menjadi perhatian masyarakat, termasuk di media sosial.
Dari hasil peninjauan dan komunikasi dengan pihak pelaksana, ia memperoleh informasi bahwa fasilitas penyeberangan bagi pejalan kaki maupun sepeda motor ternyata tidak tercantum dalam kontrak awal pekerjaan.
Menurutnya, jembatan sementara untuk masyarakat baru dimunculkan setelah pekerjaan berjalan dan adanya tuntutan dari masyarakat yang membutuhkan akses penyeberangan.
“Ternyata memang tidak dicantumkan dalam kontrak bahwa ada opsi untuk pejalan kaki maupun motor. Opsi munculnya jembatan gantung setelah dimulainya pekerjaan,” jelasnya.
Ia menyebut keberadaan jembatan gantung tersebut kemudian disepakati melalui adendum karena sebelumnya tidak tercantum dalam kontrak awal.
Fathoni juga menyoroti jalur alternatif yang dibuat masyarakat untuk sepeda motor. Menurutnya, kondisi jalur tersebut perlu mendapat perhatian serius, terutama menyangkut aspek keselamatan pengguna.
“Yang saya tekankan lagi, ini tanggung jawabnya kontraktor maupun Bina Marga ada enggak terhadap keselamatan dan kelancaran jalan itu. Kalau enggak ada yang tanggung jawab, kan menjadi masalah. Ada kejadian, siapa yang kemudian bertanggung jawab?” ujarnya.
“Harus ada pihak yang secara jelas bertanggung jawab terhadap pengamanan akses masyarakat selama proyek berlangsung. Namanya masyarakat dengan masyarakat, mungkin ada yang memaksa atau tetap nekat. Kalau ada kejadian, tetap harus ada antisipasi. Harus ada pihak yang bertanggung jawab di situ,” katanya.
“Saya berharap tetap ada solusi, ada pembicaraan di situ. Karena kita enggak tahu kejadian yang nanti mungkin berpotensi ada korban dan seterusnya. Kan harus jelas,” harapnya.
Sementara itu, Project Manager PT Tri Manunggal Karya Maman Firmansyah memastikan pihaknya tetap menargetkan penyelesaian pekerjaan revitalisasi Jembatan WIKA pada 28 Desember 2026 sesuai batas waktu yang telah ditentukan.
“Target penyelesaian tetap di 28 Desember. Makanya kita tadi membuat action plan percepatan. Percepatan bagaimana kita mengejar ketertinggalan. Salah satunya misalnya kita mendatangkan alat yang tadinya dua menjadi tiga,” jelas Maman.
Ia menjelaskan, salah satu pekerjaan yang membutuhkan waktu cukup lama adalah pekerjaan pondasi.
“Yang paling lama itu hanya di pekerjaan pondasi. Setelah pekerjaan pondasi, ke atasnya itu sudah selesai karena beton juga sudah tersedia. Kemudian besi-besi juga sudah kita potong, bengkok, dan sudah kita suplai masing-masing,” ungkapnya.
Maman mengakui terdapat sejumlah kendala yang dihadapi selama proses pengerjaan, salah satunya terkait kondisi operator alat yang mulai mengalami gangguan kesehatan, Akses masyarakat dan pipa gas yang melintang.
“Salah satunya operator yang sudah mulai sakit-sakitan. Nanti ini juga mungkin kita akan buat penggantinya untuk meng-handle pekerjaan. Akses kepentingan masyarakat yang tetap membutuhkan akses selama pembangunan berlangsung. Maka pada saat kita mau nutup jalan untuk pekerjaan, kita buat lebih dahulu jalan untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.
“Dan pipa gas yang melintang di sekitar lokasi pekerjaan. Maka nanti Ketika nanti mulai pengerjaan di sekitar pipa gas, kita sudah koordinasikan kepada PGN untuk stand by di lokasi pekerjaan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutupnya.
Sebagai informasi, proyek revitalisasi Jembatan WIKA tersebut dikerjakan oleh PT Tri Manunggal Karya dengan nilai anggaran sebesar Rp45.982.294.553. Pekerjaan tersebut ditargetkan rampung pada 28 Desember 2026. (Retza)









