AKTUALITA.CO.ID _ Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat terus meningkat, seiring berkembangnya pendekatan nutrisi yang semakin personal. Salah satu metode yang kini mulai mendapat perhatian adalah food genomics atau nutrigenomik, yakni pendekatan nutrisi yang disesuaikan dengan profil DNA masing-masing individu.
Food genomics dinilai mampu menjawab keterbatasan diet konvensional yang kerap memberikan hasil berbeda pada setiap orang. Faktor genetik membuat tubuh memiliki respons yang tidak sama terhadap makanan, mulai dari proses metabolisme, penyerapan nutrisi, hingga potensi alergi dan intoleransi.
Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis genetika, di mana rekomendasi asupan disusun berdasarkan kode genetik individu. Dengan pendekatan ini, pola makan tidak lagi bersifat umum, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan biologis personal.
“Tidak ada satu pola makan yang bisa diterapkan untuk semua orang. Perbedaan kode genetik sangat memengaruhi bagaimana tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan nutrisi idealnya bersifat personal,” ujar dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat, Senin (12/1/2026).
Pandangan serupa disampaikan dr. Andini Putri Lestari, M.Gizi, praktisi nutrisi dan edukator kesehatan. Menurutnya, food genomics menjadi jembatan antara ilmu gizi dan pencegahan penyakit sejak dini.
“Pendekatan nutrigenomik membantu seseorang mengenali kebutuhan tubuhnya lebih spesifik. Ini sangat bermanfaat untuk pencegahan penyakit metabolik seperti diabetes, kolesterol, hingga obesitas, jika diterapkan dengan pendampingan tenaga medis,” jelas dr. Andini.
Secara global, riset nutrigenomik terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jangka panjang. Di Indonesia, pemeriksaan food genomics masih relatif terbatas, meski penelitian terkait hubungan genetik dan nutrisi sudah cukup banyak dilakukan.
Tes food genomics umumnya dilakukan melalui sampel darah atau air liur, dengan waktu analisis sekitar satu hingga dua minggu. Hasilnya kemudian dikaji oleh dokter spesialis gizi klinik untuk menyusun rekomendasi nutrisi personal, mulai dari pengaturan makronutrien, kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D, asupan lemak esensial omega-3, hingga rekomendasi olahraga yang sesuai.
“Secara genetik, hasil nutrigenomik bersifat tetap karena DNA seseorang tidak berubah. Namun penerapannya tetap harus mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti gaya hidup, stres, dan aktivitas fisik,” tambah dr. Davie.
Sementara itu, Rina Oktaviani, seorang pemerhati gaya hidup sehat, menilai food genomics sebagai pendekatan masa depan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
“Banyak orang sudah mencoba berbagai jenis diet tapi hasilnya tidak konsisten. Dengan food genomics, pola makan jadi lebih terarah dan realistis karena berbasis kondisi tubuh masing-masing,” ujarnya.
Selain menyusun pola makan yang lebih tepat, panel nutrigenomik juga dapat memberikan gambaran terkait potensi alergi atau intoleransi makanan. Informasi ini membantu individu menghindari asupan yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
Meski demikian, dr. Davie menegaskan bahwa food genomics bukan pengganti prinsip dasar hidup sehat. Pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta komposisi gizi seimbang tetap menjadi fondasi utama.
Ke depan, food genomics diproyeksikan berkembang sebagai salah satu pendekatan pendukung gaya hidup sehat yang lebih presisi, terutama dengan integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI), big data, dan perangkat wearable.
“Harapannya, food genomics dapat menjadi alat bantu dalam menentukan pola makan yang lebih personal dan berkontribusi pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” tutup dr. Davie.
(Sheila Nurullita)









