AKTUALITA.CO.ID — Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap adanya modus baru peredaran narkoba melalui game online, yang dinilai semakin menyulitkan proses pelacakan dan pengungkapan kasus oleh aparat penegak hukum.
Penyuluh Narkoba Ahli Muda BNN Kabupaten Bogor, Eko Sumartono, menjelaskan bahwa hingga saat ini, modus peredaran narkoba yang paling sering ditemukan masih menggunakan pola konvensional.
“Secara umum yang kita ketahui masih seperti Sistem Tanam, Sistem Tempel, dan Sistem Sherlock. Modus-modus itu masih menjadi yang paling banyak kita temui, baik dari pengungkapan kasus oleh BNN maupun kepolisian,” ujar Eko.
Namun demikian, Eko, mengungkapkan adanya perkembangan modus baru yang memanfaatkan platform game online sebagai sarana transaksi narkoba.
“Kami mendapatkan informasi dari rekan-rekan di lapangan, ada juga modus baru melalui game online. Ada kasus seorang anak yang membeli narkoba melalui chat di dalam game online tersebut, kemudian barangnya dikirim menggunakan jasa kurir,” jelasnya.
Dalam modus tersebut, transaksi tidak menggunakan uang konvensional, melainkan mata uang virtual yang ada di dalam permainan.
“Pembayarannya menggunakan mata uang game seperti diamond dan sejenisnya. Ini yang membuatnya jauh lebih sulit untuk dilacak,” tambah Eko.
Eko menegaskan, bahwa meskipun kasus dengan modus game online sudah ditemukan, jumlahnya masih relatif sedikit dan belum banyak terungkap secara luas.
“Sudah ada, tetapi belum terlalu familiar. Pengungkapannya memang lebih sulit dan biasanya terdeteksi dari hasil intervensi serta asesmen pihak-pihak seperti pemerintah desa yang secara tidak sengaja mendapatkan informasi tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, beberapa kasus serupa juga ditemukan di wilayah lain seperti Bandung dan daerah lainnya, sehingga dibutuhkan kewaspadaan lebih tinggi dari masyarakat, terutama orang tua dan pemerintah desa.
“Kami berharap jumlah modus baru ini tidak semakin berkembang. Semakin beragam modus yang digunakan, tentu membutuhkan upaya dan strategi yang lebih lanjut untuk mengungkapnya,” tutup Eko.
(Pandu)









