AKTUALITA.CO.ID – Upaya pelestarian budaya terus digencarkan kalangan muda di Kabupaten Bogor. Salah satunya dilakukan Sanggar Dayang Sumbi Enteryaiment yang aktif menampilkan ragam seni tari Nusantara di berbagai kegiatan publik, termasuk Car Free Day (CFD). Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah edukasi seni bagi pelajar hingga anak usia dini.
Pelatih Sanggar Dayang Sumbi, Nuraini Azahra, mengatakan bahwa dirinya bangga melihat generasi muda kini semakin antusias mempelajari seni budaya lokal, meski berada di era modern.
“Senang banget bisa ikut melestarikan budaya Bogor. Walaupun kami Gen Z yang katanya cuma kenal budaya luar, tapi nyatanya kami mampu menjaga dan memajukan tarian tradisional. Tari-tarian lama kami realisasikan lagi ke zaman sekarang,” ujarnya.
Nuraini menuturkan, tantangan utama sanggar adalah menarik minat generasi muda yang semakin akrab dengan dunia digital. Karena itu, pihaknya menerapkan pendekatan kreatif agar tari tradisional lebih dekat dan menarik bagi kalangan pelajar.
“Caranya tampil di lingkungan luar, aktif posting di media sosial, sampai bikin challenge biar masyarakat tertarik. Dari situ masyarakat bisa menilai bahwa seni kita luar biasa. Dari seni tari juga bisa dapat prestasi,” katanya.
Saat ini Sanggar Dayang Sumbi yang berlokasi di Desa Tlajung Udik, Kecamatn Gunung Putri itu memiliki dua cabang, dengan total peserta sekitar 175 orang. Mereka terdiri dari berbagai usia, bahkan ada yang mulai belajar sejak umur tiga tahun hingga ibu-ibu.
“Persyaratannya nggak ada. Cuma bayar administrasi Rp200 ribu sudah dapat kaos dan rok. Yang penting mau belajar. Kami bisa mengajar tari Nusantara, bukan hanya jaipong, tapi juga Betawi, Dayak, Aceh, Minang,” jelasnya.
Menurut Nuraini, meski cukup sulit menarik minat generasi muda, keberadaan anak-anak justru menjadi daya tarik alami. “Kalau kita tampil dan banyak orang liat, itu bisa bikin orang lain tertarik. Jadi berkembang dari mulut ke mulut,” ucapnya.
Terlebih, Ia juga berharap, agar kegiatan seni di Kabupaten Bogor dapat terus berjalan setiap minggu. “Semoga seni tari di Indonesia makin jaya, berkembang, dan makin dijaga,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Bogor, Ria Marlisa, menegaskan bahwa pihaknya terus menggandeng sanggar seni dalam memeriahkan CFD dan mengembangkan kreativitas generasi muda.
“Kami menggandeng para penggiat seni budaya, teman-teman hotel, dan pelaku ekonomi kreatif. Ini juga untuk memasarkan fasilitas hotel serta sanggar-sanggar seni agar masyarakat tahu tempat belajar tari atau mengikuti workshop ekonomi kreatif,” ujarnya.
Menurutnya, langkah ini sejalan dengan arahan Bupati Bogor yang mendorong penguatan ekonomi kreatif melalui ruang publik seperti CFD. “CFD menjadi desain pemasaran potensi Kabupaten Bogor di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” katanya.
Ria mengungkapkan bahwa mayoritas peserta seni tari berasal dari kalangan pelajar. Hal ini menunjukkan sanggar seni telah menjadi komunitas positif bagi pembentukan karakter generasi muda.
“Dalam sanggar seni, mereka diajarkan disiplin, budaya, dan nilai positif lainnya. Saya sangat mendukung karena ini bukti generasi muda kita mencintai seni budaya,” tegasnya.
Selain itu, Disbudpar juga menyediakan workshop kerajinan tangan dan berbagai kegiatan kreatif lainnya untuk menarik minat anak-anak yang datang bersama orang tuanya.
Ria mengakui tantangan terbesar dalam dunia pendidikan seni saat ini adalah dominasi gadget dalam kehidupan anak-anak. “Tantangannya pasti ada, karena gadget sangat berpengaruh. Tapi kami terus kampanyekan kepada orang tua bahwa banyak potensi anak yang bisa dikembangkan,” jelasnya.
Menurutnya, sanggar seni yang dibuka setiap minggu terbukti efektif menarik minat anak-anak yang hadir ke CFD. “Mereka bisa lihat banyak kegiatan positif selain memegang handphone,” tutupnya.
(Pandu)









