AKTUALITA.CO.ID – Pada hari ini (24 April 2024) DPC Partai Gerindra dan DPC PKB bersepakat untuk berkoalisi. Namun koalisi tersebut tidak lebih dari kerjasama dalam penjaringan bakal calon walikota dan wakil walikota Bogor. Hal tersebut dikatakan oleh Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik Yusfitriadi.
” Saya melihatnya koalisi PKB dan Gerindra ini, memberikan pesan beberapa hal. Pertama, sebagai respon atas komunikasi politik yang dibangun oleh PAN dengan membawa Dedie Rachim dan Golkar dengan menggadang-gadang Rusly yang akan diusung,” ungkapnya
Kedua, kata dia, sebagai bentuk kegamangan. Dimana Partai Gerindra Kota Bogor saat tidak mempunyai sosok yang kuat, baik secara kefiguran maupun dalam konteks elektabilitas. Begitupun PKB Kota Bogor, walaupun secara kepartaian elektabilitasnya naik di Kota Bogor, namun lagi-lagi kebingungan mencari sosok yang layak untuk diusung menjadi walikota atau wakil walikota.
” Secara kepartaian baik Gerindra maupun PKB merupakan partai yang secara elektabikitas cukup memadai. Andaipun ada sosok dari dua partai tersebut, sudah terpilih menjadi anggota legislatif. Sehingga agak berat untuk berani melepaskan jabatan yang sudah pasti, demi mengejar yang belum pasti,” cetusnya.
Lebih lanjut Yusfitriadi mengatakan, Ketiga, menaikan posisi tawar, baik Partai Gerindra maupun PKB sama-sama tidak mempunyai kader kuat, maka dalam upaya menutupinya dengan melakukan penjaringan, sama saja seperti PDIP. Bedanya kalau PDIP cuma sendirian, sedangkan PKB dan Gerindra dua partai. Posisi tawar tersebut, bisa berorientasi penjaringan figur, ataupun untuk kepentingan kontraktual pragmatis apapun bentuknya.
” Namun saya melihatnya koalisi model yang dibangun oleh partai Gerindra dan PKB, dimana bentuknya masih penjaringan akan mudah rapuh, karena pada saatnya ketika sudah harus mengusung figur akan rentan berbenturan kepentingan,” tandasnya.
Kang Yus menyebut, kondisi ini kalau kita komparasikan dengan di tingkat nasional seperti koalisi yang dibangun oleh Golkar, PAN dan PPP yang bernama Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Koalisi tersebut bubar setelah berbenturan kepentingan masing-masing partai ketika dihadapkan kepada pilihan figur yang diusung menjadi calon presiden dan wakil presiden.
” Kurang lebih koalisi partai gerindra dan PKB juga seperti itu,” pungkasnya.
** Nays Nur’ain









