AKTUALITA.CO.ID – Pekerjaan tambal sulam jalan di wilayah kerja Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Wilayah I Kabupaten Bogor kembali menuai sorotan. Sejumlah warga menilai perbaikan jalan yang dikerjakan kontraktor tidak sesuai standar sehingga tambalan cepat rusak dan kembali menimbulkan lubang.
Padahal, pemerintah telah menetapkan standar teknis perbaikan jalan melalui aturan Kementerian PUPR. Dalam ketentuannya, tahapan perbaikan ideal meliputi pembersihan permukaan, pemotongan area kerusakan secara presisi, pelapisan perekat (tack coat), pengisian aspal panas sesuai spesifikasi, hingga pemadatan menggunakan alat berat agar tambalan benar-benar menyatu dengan aspal lama.
Namun, kondisi di lapangan berbeda jauh. Banyak kontraktor diduga hanya menutup lubang menggunakan aspal dingin tanpa proses pemadatan maksimal, sehingga tambalan mudah mengelupas bahkan dalam hitungan minggu.
Salah satu lokasi yang mengalami kerusakan ulang adalah di Jembatan Cijujung, Sentul. Belum satu bulan setelah ditambal, permukaan jalan kembali berlubang. Kondisi ini memicu keluhan warga dan pengguna jalan.
“Iya, kemarin ada yang jatuh di sini karena kena lubang. Korbannya ibu-ibu pulang kerja. Kasihan banget,” ujar seorang pedagang yang berjualan setiap hari di dekat lokasi, Selasa (02/12/25).
Sementara itu, Pengamat kebijakan publik Yudistira menilai persoalan ini menunjukkan lemahnya pengawasan Dinas PUPR Kabupaten Bogor terhadap pekerjaan di lapangan. Menurutnya, program perbaikan jalan terlihat hanya mengejar citra, bukan kualitas.
“Standar tambalan jalan seharusnya bertahan minimal satu tahun. Kalau alasannya karena dilalui banyak truk besar, tentu harus ada solusi material, bukan dikerjakan asal-asalan,” tegasnya.
Ia juga mendorong masyarakat untuk turut aktif mengawasi seluruh pekerjaan perbaikan jalan yang dikerjakan UPT PUPR.
“Warga harus proaktif melaporkan temuan di lapangan agar pengawasan lebih efektif,” pungkasnya. (Retza)









