AKTUALITA.CO.ID – Tim Renaldi Aristone Sinaga atau yang akrab disapa Bro Ron mengalami berbagai bentuk intimidasi dan upaya suap saat menangani kasus dugaan penyimpangan Program Indonesia Pintar (PIP) di sebuah yayasan di Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.
Salah satu anggota tim Bro Ron, Nenden, mengungkapkan bahwa seorang mantan wartawan yang kini menjadi komite sekolah menawarkan uang senilai Rp50-100 juta agar kasus ini tidak diungkap ke publik.
“Jadi memang salah satu mantan wartawan itu saat ini sudah menjadi komite di sekolah tersebut dan menawarkan uang sebesar Rp50-100 juta. Silakan saja disebut nominalnya, tapi asal jangan di Up satu sekolah di Kecamatan Tenjo,” kata Nenden saat menghadiri diskusi di LS Vinus, Cibinong.
Ia juga menyebut bahwa sekolah dan komite yang terlibat dalam kasus ini adalah SD-SMP Tunas Harapan Islami serta SMK Bina Nusantara Tenjo. Total dugaan penyimpangan dana PIP di yayasan tersebut diperkirakan mencapai Rp3 miliar, namun sekitar Rp800 juta telah dikembalikan.
Selain tawaran uang, kata Nenden, tim Bro Ron juga mengalami intimidasi bahkan ada ancaman dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
“Tapi untung Bang Ron dan tim sigap untuk nolong kita,” ujar Nenden.
Bro Ron sendiri mengungkapkan bahwa kepala sekolah dan mantan wartawan yang terlibat dalam kasus ini sampai mendatangi rumah salah satu timnya untuk meminta maaf dan mencoba menyuap agar kasus ini tidak dibongkar lebih jauh.
“Sampai kepala sekolah datang ke rumah tim saya, minta ampun. Wartawan (mantan wartawan) juga datang, tawarkan duit. Sampai ada juga yang minta maaf setelah sebelumnya mencaci maki,” ungkap Bro Ron.
Untuk menghadapi tekanan tersebut, Bro Ron mengatakan bahwa timnya selalu memilih untuk segera mempublikasikan kasus-kasus yang mereka tangani agar semakin banyak yang mengetahui.
“Biasanya kalau sudah ramai, mereka tidak berani macam-macam. Makanya saya selalu bilang ke tim, langsung ramaikan,” tegasnya.
Menurutnya, dukungan dari masyarakat menjadi perlindungan utama bagi timnya dalam menangani kasus-kasus seperti ini. “Kalau sudah ramai, rakyat yang melindungi. Begitulah cara kita mengamankan diri agar tidak terpengaruh oleh intimidasi yang datang,” pungkasnya.
(reza)









