Aktualita.co.id _ Pencabulan yang dilakukan oleh oknum guru SD di Kecamatan Klapanunggal Kabupaten Bogor, mendapatkan perhatian khusus dari Pemerhati Hukum dan Kriminal Sudadi. Pasalnya, perbuatan oknum guru tersebut sudah tidak layak untuk disebut sebagai pendidik, apalagi aksi cabul yang dilakukannya itu ia praktikan kepada anak didik yang seharusnya dia jaga dan lindungi sebagai peran pengganti orang tua di sekolah.
” Pencabulan itu merupakan pidana murni, jadi tidak ada istilah perdamaian terkait kasus yang pencabulan yang dilakukan oleh oknum guru tersebut. Sekalipun sudah ada kesepakatan musyawarah dari keduabelah pihak, dalam hal ini saya minta kepolisian tetap melakukan penangkapan dan meneruskan kasus ini,” ungkap Dadi sapaan akrabnya.
Dadi yang juga sebagai Ketua Bogor Timur Jurnalis (BTJ) mengungkapkan, yang menjadi perhatian bukan hanya kasus hukum yang harus ditindaklanjuti terhadap oknum guru tersebut. Melainkan, psikis anak yang menjadi korban harus lebih diperhatikan.
” Karena apa, sudah barang tentu korban pencabulan yang menimpa pada anak, akan menjadikan perubahan perilaku terhadap anak tersebut, dan itu fakta,” cetus Dadi.
Lebih lanjut Dadi menambahkan, belum lama ini juga terjadi hal yang sama, yaitu percobaan perkosaan yang terjadi di wilayah Gunungputri, Bogor. 10 pelaku yang masih remaja tersebut, sudah berprilaku diluar batas kewajaran tindak kenakalan remaja yang seharusnya, hingga menjurus kepada kriminal.
” Dalam hal ini kita semua harus jeli, apakah pelaku tersebut sudah pernah punya catatan kenakalan lain, atau belum. Jika sudah punya catatan kenakalan lain, seperti tawuran, penyetopan mobil untuk konten (BM), pernah melakukan keisengan seperti pencurian, dan kemudian meningkat terhadap perilaku menyimpang seperti percobaan pemerkosaan,” tandasnya.
” Hal itu harus menjadi pertimbangan, berarti kenakalannya meningkat dan memang harus diberikan pembinaan ekstra agar ada efek jera,” tambahnya.
Dalam hal ini bukan hanya pihak kepolisian saja, tapi peran orang tua juga sangat penting. Awasi anak dengan siapa dia bergaul, seperti apa dunia pergaulannya. Memang betul, sebagai orang tua tidak bisa membuntuti anak 24 jam seiring bertambahnya usia.
” Tapi jika orang tua memberikan perhatian, bawel dan selalu memberi warning, itu bisa anak memiliki rasa takut. Berikan pemahaman kepada anak, ajak bicara anak, ajak ngobrol anak, selayaknya sahabat. Sambil memberikan edukasi, tingkat bahaya kenakalan remaja yang harus dihindari. Sehingga anak pun, saat mendapatkan ajakan dari teman-temannya dia terngiang dampak dari kenalan yang akan dia lakukan, karena seringnya orang tua memberikan edukasi secara mandiri dan terus menerus di lingkungan keluarga,” paparnya.
Namun dalam hal ini, lanjut Dadi, dirinya sangat mengecam akan perbuatan oknum guru tersebut, khusus kasus tersebut ia minta pihak kepolisan untuk segera menindak tegas. Karena sejatinya guru adalah seorang pendidik, bukan perusak.
” Dan untuk kasus percobaan pemerkosaan, pihak kepolisan pun harus menindak tegas para remaja tersebut, bukan hanya sekedar dihukum tapi lebih berikan edukasi dan pembinaan untuk mereka yang masih dalam usia remaja,” tukasnya.
Dadi berharap, jika ada hal atau perbuatan pencabulan, percobaan pemerkosaan yang korbannya adalah anak. Jangan coba-coba untuk dilakukan musyawarah atau kekeluargaan. Karena itu merupakan tindakan kelainan perilaku, dimana sangat memungkinkan jika dimusyawarahkan pelaku bisa melakukan bisa melakukan hal yang sama dikemudian hari.
” Harus ada efek jera untuk pembelajaran, tanpa pandang bulu itu siapa. Intinya, kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur itu tidak bisa ada perdamaian karena akan memicu dan melindungi pelaku traficking/perdagangan manusia, karena bisa saja terjadi semisal anaknya sendiri di jual dan endingnya tidak di proses hukum karena ada perdamaian,” katanya.
” Jangan ada nego-negoan, karena ini kekerasan seksual bukan transaksi jual beli,” pungkasnya mengakhiri.
** Nay Nur’ain









